Friday, August 4, 2017

KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN DESA GLAGGA



Desa Glagga merupakan salah satu dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor kecamatan pada akhir bulan Mei 2017 penduduk desa Glagga mencapai 5.612 jiwa dengan rincian jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 2.838 jiwa dan perempuan sebanyak 2.774 jiwa. Jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2016 yang memiliki jumlah penduduk desa sebanyak 5628 jiwa dengan rincian laki-laki 2.783 jiwa dan perempuan 2.845 jiwa. Glagga memiliki luas desa 6.153 km2 dengan 1.510 kepala keluarga. Jika dihitung menggunakan rumus kepadatan penduduk, maka desa Glagga termasuk dalam desa yang memiliki penduduk sedikit dengan 1,096 jiwa/km per Mei tahun 2017.
Data Kependudukan desa Glagga dapat dilihat pada Tabel 1.
Jumlah Penduduk
Kelahiran
Kematian
Pendatang
Perpindahan
L
P
L+P
L
P
2.774
2.838
5.612
1
0
0
6
2
Rendahnya tingkat kepadatan penduduk di desa Glagga disebabkan oleh sebagian besar wilayah desa merupakan daerah perkebunan dan persawahan. Hasil tani desa Glagga tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 2, padi masih menjadi komoditi paling strategis di bidang pertanian dan kacang tanah dengan produktivitas berturut-turut adalah 4,36 ton/Ha dan 1,50 ton/Ha.
No.
Jenis Komoditi
Luas (Ha)
Produksi (Ton)
Produktivitas (Ton/Ha)
1.
Kacang Tanah
208.00
311.50
1.50
2.
Padi
381.00
1.660.00
4.36
3.
Jagung
222.00
241.50
1.09
Masyarakat yang memiliki sawah dan kebun juga memiliki ternak seperti kambing dan sapi. Mereka memanfaatkan ternak tersebut untuk membajak sawah maupun menggunakan kotorannya untuk digunakan sebagai pupuk. Sebagian masyarakat yang tidak memiliki ladang untuk ditanami memilih untuk menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Profesi TKI di desa Glagga merupakan profesi turun-temurun.

KETERANGAN UMUM DAN SEJARAH DESA GLAGGA



KETERANGAN UMUM DAN SEJARAH DESA
Keterangan Umum
            Desa Glagga merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Luas desa 6.153 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 5.612 jiwa. Adapun batas wilayah desa Glagga, yaitu:
Sebelah Utara       = Desa Berbeluk
Sebelah Selatan    = Desa Batanaong
Sebelah Timur      = Kecamatan Geger
Sebelah Barat       = Desa Karang Duwak
Kekayaan sumber daya alam pun cukup melimpah, diantaranya adalah kacang tanah, padi, jagung, melinjo, dan asam. Kondisi tanah di desa Glagga termasuk subur karena jika dilihat dari hasil pertanian dan perkebunan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan cocok ditanami berbagai jenis tanaman.
            Sistem pemilihan kepada desa menggunakan PEMILU (Pemilihan Umum) yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Kepala desa disini terkenal dengan sebutan “klebun”. Dalam menjalankan tugasnya, klebun dibantu oleh sekretaris desa dan bendahara desa. Garis koordinasi dibawah kewenangan klebun adalah pamong tiap dusun yang ada di desa Glagga.
            Sebagian warga desa ini memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Potensi lokal yang cukup banyak dimanfaatkan adalah kayu yang digunakan sebagai kerajinan dan industri meubel. Olahan produk hasil pertanian disini masih perlu dilakukan inovasi dan kreativitas penduduk. 

Sejarah Desa Glagga
Desa “Glagga” berasal dari kata galak dan gah yang berarti gagah dan berani menghadapi rintangan dan musuh karena pada zaman dahulu banyak penjajah dari belanda yang masuk ke desa ini. Desa glagga memiliki 10 dusun yaitu Karang Malaka, Kroje, Kebun Larangan, Gunung Malang, Laok Gunung, Besambih, Morsabe, Mongmong Timur, Mongmong Barat, dan Karang Candih.
Menurut asal usul dari Dusun Karang Malaka, pada zaman dahulu ada seorang putri bernama Raden Malaka Putri diperintah oleh Ayahanda untuk mencari bunga. Kemudian Raden Malaka Putri menemukan bunga yang sesuai dengan permintaan sang Ayahanda. Akhirnya bunga dan batang yang diambil tersebut ditancapkan ke tanah sehingga tumbuh. Pohon itu diberi nama "Malaka” yang hanya tumbuh di Dusun Karang Malaka.
Dusun Kroje berasal dari kata “kerajaan” karena pada zaman dahulu terdapat sebuah kerajaan di dusun tersebut yang bernama Sunan Koneng. Selanjutnya beralih ke Dusun Morsabe yang merupakan gabungan dari kata “somor” dan “sabe” yang artinya sumur dan sawah. Menurut cerita, dahulu ada seorang wali yang bernama Sunan Geger sedang melakukan perjalanan, kemudian membuat sebuah sumur di tengah sawah sebelum melanjutkan perjalanannya ke Kecamatan Geger yang berada di sebelah Desa Glagga.
Dusun Kebun Larangan berarti “kebun mahal” (larang dalam bahasa madura) karena pada zaman dahulu banyak ditanami Rang Bunglon (Rambutan) yang harganya mahal. Kemudian asal usul dari Dusun Gunung Malang berasal dari bahasa madura, “malang” yang berarti gunung yang tidak bisa tinggi. Selanjutnya Dusun Laok Gunung, karena terletak di sebelah selatan gunung malang.

Rapat Perdana dengan Anggota Karang Taruna dan Apel di Desa Glagga



Rapat Perdana dengan Anggota Karang Taruna dan Apel di Desa Glagga
Rapat merupakan salah satu cara untuk menemukan sebuah solusi yang disepakati oleh sebuah kelompok. Kesuksesan suatu acara perlu pertimbangan dan persiapan yang sangat matang. Oleh karena itu KKN 40 mengadakan sebuah rapat dengan aparatur desa untuk menemukan sebuah solusi yang tepat, acara tersebut berlangsung pada (20/07/2017) di mushollah bapak H. Amin Jakfar selaku kepala desa di desa Glagga kecamatan Arosbaya kabupaten Bangkalan. Sebelum melakukan acara tersebut dilakukan, anggota KKN40 melakukan penyebaran undangan ke setiap apel dusun yang ada di desa Glagga diantaranya; dusun karang malaka, dusun krojeh, mong-mong barat dan mong-mong timur, mor sabe, laok gunung, gunung malang, karang candih, kebun larangan, dan besambih .
Tepat pukul 19.00 Acara tersebut dimulai dan dihadiri oleh beberapa apel yang ada di desa Glagga yang diantaranya dari dusun karang malaka, dusun krojeh, dan dusun Morsabe, dan selebihnya diwakili oleh orang yang bersangkutan. Dalam rapat tersebut membahas tentang bagaimana cara membuat desa bisa menjadi lebih baik, dengan adanya kelompok KKN 40 Universitas Trunujoyo Madura. Dalam pertemuan apel tersebut juga memaparkan tentang proker-proker kelompok KKN 40 yang akan menunjang potensi desa Glagga itu sendiri, dari hal tersebut setiap apel yang menghadiri rapat memberi solusi agar kelompok KKN 40 bisa bermanfaat dan bisa mengarahkan warga desa Glagga untuk menunjang potensi yang ada di desa Glagga.
Salah satu apel menyarankan bahwa “agar kontribusi kelompok KKN 40 bisa dilihat oleh setiap warga yang ada di desa Glagga, maka setiap proker yang telah direncanakan harus disebar perdusun artinya tidak semua proker dilaksanakan di dusun karang malaka saja” pernyataan tersebut merupakan sebuah solusi yang tepat bagi kelompok KKN 40 yang menempati desa Glagga selama KKN.   
Rapat tersebut juga dihadiri oleh beberapa anggota karang taruna, meraka juga merupakan salah satu kelompok pemuda yang membantu jalannya anggota KKN 40 selama ada di desa Glagga. Namun selain itu anggota karang taruna juga akan menjembatani antara warga desa Glagga dan anggota KKN 40 ketika program KKN sudah menyelesaikan kegiatannya.

Tuesday, August 9, 2016